Cerita Inspirasi Orang lain

Seorang Salary Zombie tidak menjadi Zombie dengan sendirinya.

Sebetulnya, ada sebuah proses pen-zombie-an yang pada banyak organisasi telah melembaga dengan sangat kuat.

Meskipun tidak terang-terangan dilakukan untuk men-zombie-kan orang,

tidak sedikit pemimpin yang berlaku mengecilkan semangat bawahan dan semua yang lebih muda dari mereka; dan dengannya,

mengkerdilkan semangat mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang bernilai.

Para bawahan akan secara bertahap kehilangan ketertarikan untuk mencapai hasil yang baik,

karena para atasan menilai bawahan mereka dengan menggaris-bawahi kesalahan, dan bukan merayakan keberhasilan.

Mereka dinilai loyal kepada atasan bukan karena mereka mengupayakan pencapaian hasil, tetapi jika mereka menutupi ketidak-mampuan dan ketidak-jujuran para atasan.

Atasan mencurigai para reformer dan menamai mereka penggoyang kemapanan.

Rekan-rekan Anda yang lain, mungkin karena mereka telah men-zombie – mereka memberikan predikat negatif kepada Anda yang aktif mengusulkan ide perbaikan.

Ada juga di antara mereka yang mengalahkan Anda melalui kedekatan palsu dengan para atasan.

Dan yang lebih menyakitkan – adalah mereka, yang dipromosikan karena kerja keras Anda, kemudian menjadi atasan Anda yang semena-mena.

Perhatikanlah, bahwa semakin tua dan semakin besar organisasi di mana Anda berada, akan semakin terlembagakan proses pen-zombie-an seperti itu.

Dalam lingkungan seperti itu, hanya careerist yang bertahan dan tidak menjadi zombie.

Hanya pemberani yang bisa menjadi careerist.

Sahabat saya, pribadi Indonesia yang besar potensinya,

yang tidak mengijinkan impian-impian kecil sebagai pengisi kesadarannya,

Sebuah karir yang baik biasanya dimulai dari keberserahan yang tulus kepada tugas pemuliaan sesama,

kemudian tumbuh menjadi partisipasi yang kritis,

kemudian membesar menjadi perjuangan yang penuh tantangan,

dan kemudian mendewasa menjadi sebuah kewenangan yang mapan dan yang berdaya ubah besar.

Proses yang bisa menjadi catatan menonjol dalam sejarah keluarga seperti itu tidak mungkin dicapai oleh orang-orang yang mengutamakan keselamatan gaji yang itu-itu saja.

Karir yang baik selalu dicapai melalui perjalanan yang beresiko, karena bahkan pada tingkat-tingkat tertingginya – sebuah karir masih tetap beresiko.

Dan

Sebuah karir yang baik membutuhkan perawatan berkelanjutan, sehingga sebetulnya tidak ada karir yang jadi dan telah selesai.

Tetapi, bagi mereka yang malas, kerja keras dan perjuangan untuk memenangkan karir yang baik, yang kemudian keberlanjutan dalam perawatannya,

adalah alasan utama untuk tidak agresif membangun karir yang baik.

Sebagai gantinya,

mereka memilih merawat perasaan kecil dan tidak berarti, dalam menghubungkan satu tanggal gajian ke tanggal gajian berikutnya.

Bagaimana dengan keberanian?

Seperti halnya dengan kesungguhan, kita tidak mungkin menghindari keberanian.

Perhatikanlah dan sebar-luaskanlah dalam kepemimpinan dan pergaulan Anda, bahwa:

Dia yang tidak berani mengupayakan kecemerlangan, harus berani hidup dalam keredupan.

Sahabat saya yang hatinya ranum bagi pencapaian kebesaran hidupnya,

Anda seorang pribadi Indonesia yang bersungguh-sungguh bekerja untuk menjadikan dirinya bernilai.,

Anda dilahirkan sebagai careerist.

Maka bersungguh-sungguhlah dalam keberanian Anda.

………..

Sahabat saya yang hatinya baik,

Untuk yang berikut ini, saya mohon Anda membacanya seperti jika Anda menasehatkannya kepada adik yang lebih muda;

Apakah engkau sedang menunggu gajimu berlaku baik kepadamu?

Janganlah memperlakukan gajimu seperti makhluk hidup yang menyiksa mu.

Gajimu adalah pilihanmu.

Jika engkau mengeluhkan gajimu, sebetulnya engkau sedang mengeluhkan kebijakanmu sendiri.

Adikku yang harus segera mencerdaskan dirinya dalam memilihkan pintu rezeki bagi kesejahteraan diri dan keluarganya,

Apakah pernah kusampaikan kepadamu sebelum ini, bahwa

Gajimu adalah sebagian sangat kecil dari keseluruhan rezekimu.

Tetapi, engkau hanya menghadapkan wajah dan hatimu kepada gajimu, dan berlaku seperti gajimu hanya satu-satunya cara bagi Tuhan untuk menyejahterakanmu.

Engkau telah menetapkan dirimu sebagai penghamba di jalan yang kecil gajinya, karena engkau merasa tak sesuai bagi tempat-tempat yang membayar tinggi.

Tetapi, kemudian engkau mengeluh, merintih, dan meratap di jalan yang kecil gajinya itu, sambil menggunakan air matamu untuk menutupi pandanganmu dari jalan-jalan rezeki Tuhan yang telah menyejahterakan banyak saudaramu yang lebih ikhlas.

Mengapakah engkau memilih tempat yang membayar kecil, padahal engkau tahu bahwa impian-impian hatimu terlalu besar untuk dibiayai oleh bayaran-bayaran kecil?

Mengapakah engkau membiarkan diri yang pantas bagi semua bayaran besar itu, merambat di tempat yang memperlakukan semua orang seperti tidak bermutu?

Sekarang, dekatkanlah telinga hatimu kepadaku,

Adikku, gajimu itu bukan penunjuk nilaimu bagi kehidupan ini, dan bukan tanda penghormatan dunia kepadamu.

Engkau mengeluhkan gajimu, mungkin karena engkau belum sepenuhnya lulus dari sekolah dasar kesyukuran.

Mungkin juga engkau belum sepenuhnya menggunakan apa pun gajimu, sebagai modal terbaik untuk membiayai tindakan-tindakan kecil yang berbakat besar. Untuk itu, engkau harus lulus sekolah menengah keikhlasan.

Atau, mungkin engkau sudah dibayar dengan baik, tetapi engkau mendahulukan kesenangan membeli yang tidak berguna bagimu. Dan untuk itu, engkau tidak harus lulus dari apa pun, kecuali berpikir sedikit lebih cerdas.

Gajimu bukanlah dirimu.

Untuk sementara ini, gajimu hanyalah tanda bahwa engkau harus menjadi pribadi yang lebih jernih pikirannya, yang menepatkan pilihan-pilihannya, dan bersikap lebih logis dan tegas untuk mendahulukan yang penting bagi kesejahteraan dan kebahagiaanmu.

Sekarang, berhentilah mengeluh.

Alihkanlah tenaga keluhanmu, dan gunakanlah ia untuk menguatkan pilihan-pilihan barumu.

Engkau berhak untuk dihargai lebih tinggi.

Hanya sekarang,

Apakah engkau berlaku yang memantaskanmu bagi penghargaan tinggi?

………..

Sahabat saya yang hatinya baik sekali,

Begitu dulu ya?

Mudah-mudahan hari ini menjadi awal dari terbukanya semua pintu rezeki yang lebih besar bagi kesejahteraan dan kebahagiaan Anda dan keluarga tercinta.

Pastikanlah bahwa Anda berlaku lebih berkasih-sayang kepada keluarga dan kerabat Anda.

Sadarilah, bahwa perasaan baik mereka itu, penting bagi perlakuan baik kehidupan kepada Anda.

Loving you all as always,

Comments

Cerita Inspirasi Pribadi

Nama   : Sistha Pangastuti

NRP     : B04100195

Laskar  : 9

Jurusan : Kedokteran Hewan

Saya ingin berbagi tentang pengalaman saya ketika berjuang untuk mendapatkan bangku di universitas negeri. Saya akui saya bukannlah orang yang memiliki kecerdasaan di atas rata-rata, bisa dibilang pas-pasan. Itu dikarenakan sifat pemalas saya yang saya manjakan. Orang tua saya mulai khawatir dengan keadaan saya yang mulai menganggap enteng pelajaran sekolah dan terkesan tidak peduli.

Ketika saya sudah naik ke kelas xii, saya mulai cemas dengan ujian nasional yang menentukan lulus tidaknya seseorang ketika di SMA. Banyaknya kasus tidak lulus dan nilai UN yang kecil-kecil, membuat saya berpikir ulang untuk merubah sifat jelek saya. Akhirnya saya mengejar ketertinggalan saya dengan sungguh-sungguh.

Semangat saya sempat turun karena saya ada berada di bawah tekanan yang luar biasa. Sempat terpikir oleh saya untuk berhenti di tengah jalan, untungnya orangtua saya selalu mensupport saya dengan nasihat-nasihatnya yang membuat semangat saya bangkit.

Sebagai siswa yang sebentar lagi lulus SMA, saya juga harus memikirkan tentang jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu kuliah.Saya sudah memutuskan untuk “banting setir” ke IPS karena saya sadar diri akan kemampuan analisis saya kurang di bidang IPA. Dua bulan sebelum ujian nasional, kelas bimbel saya pindah ke kelas IPS. Saya benar-benar belajar dari awal karena saya terakhir balajar belajar IPS ketika saya kelas x tapi untungnya saya cepat menangkap pelajaran yang diberikan oleh guru bimbel saya.

Setelah saya mengikuti ujian nasional, saya dikejar target untuk mengikuti ujian-ujian masuk universitas favorit, saya pun belajar lebih gila-gilaan karena bagi saya ini ujian masuk pertama saya. Dua kali saya gagal dalam mengikuti ujian masuk PTN.  Kemudian, saya sempat drop karena sudah ditolak dua kali.

Guru bimbel saya selalu memberikan support kepada saya dan teman-teman saya yang senasib sepenanggungan. Orangtua saya juga selalu mengatakan agar saya janagn mau kalah dengan saudara-saudara saya. Akhirnya saya menyadari bahwa saya kurang beribadah. Alhamdulillah sewaktu UMB saya diterima di pilihan ketiga. Tapi sayang, orangtua saya tidak setuju dan saya pun memang kurang sreg.

Harapan terakhir saya adalah SNMPTN. Disitulah saya kembali mengambil keputusan untuk mengambil IPC. Saya malas jika harus belajar IPA lagi tapi apa boleh buat, saya harus berusaha agar saya tidak mengecewakan orangtua saya. Mungkin doa ayah saya didengar, karena ayah saya ingin saya kuliah di Bogor saja. Karena saya anak satu-satunya.

Saya bersyukur sekali bisa diterima IPB. Yang notabenanya cukup sulit, saya harus berjuang keras agar tidak menyesal nantinya. Begitulah cerita inspirasi saya, mohon maaf jika ada kesalahan kata-kata, karena saya hanyalah manusia biasa yan tidak luput dari kesalahan.

Comments